Melihat gambar dari komik Dilbert di bawah ini saya hanya bisa senyum-senyum nostalgila, eh nostalgia :)
[caption id="" align="alignnone" width="460" caption="Dilbert Comic for March 12, 2009"]
Melihat gambar dari komik Dilbert di bawah ini saya hanya bisa senyum-senyum nostalgila, eh nostalgia :)
Ada sebuah permainan matematika yang kelihatannya tidak memiliki jawaban karena pertanyaan yang tidak scientific, tapi sebenarnya bisa dijelaskan dengan logika. Berikut pertanyaannya:
Seorang ayah memiliki tiga orang anak. Perkalian umur tiga anaknya tersebut adalah 36 tahun. Jumlah umur tiga anaknya tersebut adalah banyaknya jendela yang ada di kantor si ayah tersebut. Anak pertama memiliki mata berwarna biru. Berapakah umur masing-masing anak tersebut?
Yang sedang memiliki waktu luang silahkan coba menjawab pertanyaan iseng-iseng ini :)
There was once a young man who, in his youth, professed a desire to become a "great" writer.
When asked to define "great" he said "I want to write stuff that the whole world will read, stuff that people will react to on a truly emotional level, stuff that will make them scream, cry, wail, howl in pain, desperation, and anger!"
He now works for Microsoft writing error messages.
Sering menonton film seri Supernatural membuat saya jadi terbiasa dengan film horror ala barat (US), dan malah cenderung menganggap film-film horror ala barat yang ada sekarang ini belum ada yang bisa menandingi film seri Supernatural. Sebut saja film The Messengers sebagai contoh, bukannya merinding, tapi saya malah mengantuk menonton film ini.
Tapi agak berbeda ketika saya menonton film Mirrors yang mulai ditayangkan di bioskop akhir tahun 2008 ini. Awalnya saya sudah pesimis bahwa film ini akan membosankan. Akan tetapi saya salah, karena film ini sangat menarik untuk diikuti.
Walau jalan ceritanya sedikit bisa ditebak karena tipikal horror, tapi ada twist di akhir film, dimana pada akhirnya penyebab dari semua "kekacauan" yang awalnya diduga berasal dari mirror diketahui. Dan pemecahan dari "kekacauan" ini juga sedikit tragis (awalnya saya kira semua berakhir dengan baik). Akhir dari film ini juga membuat greget, bagi yang pernah menonton Silent Hill kira-kira begitulah ending dari film ini.
Saya merekomendasikan para penggemar film horror untuk menonton film ini, dijamin tidak seperti film horror sampah buatan Indonesia.
Komik ini dikarang oleh Raditya Dika, blogger aneh bin ajaib yang sebelumnya telah menerbitkan empat buku yang isinya tentu saja gokil bin bocor. Berhubung Raditya Dika "hanya" bisa nulis, maka ada orang yang bantuin dia untuk menggambar komiknya, dialah Dio Rudiman.
Cerita yang dimuat dalam komik ini belum pernah dipublikasikan oleh Raditya Dika, baik di blog nya maupung di buku-buku nya, jadi ceritanya benar-benar "fresh". Ceritanya seperti biasa mampu memancing gelak tawa, intinya adalah pegalaman konyol Raditya Dika ketika belajar di Adelaide. Tapi gambar komiknya menurut saya terlalu ekspresif, jadi terkesan lebay. Mungkin karena ilustrator nya masih terpengaruh komikus Jepang yang memang ekspresi wajahnya sangat berlebihan.
Yang membuat buku ini agak susah dinikmati adalah karena gambarnya tidak memperhitungkan border tengah, sehingga gambar-gambarnya yang di bagian tengah buku sulit dibaca karena terlalu rapat. Kalau mengenai harga (Rp. 33.000,-) menurut saya cukup wajar, berhubung jumlah halamannya banyak, dan lagi, saya membelinya dari Toko Buku Gramedia yang sedang diskon 30%, jadi saya hanya cukup merogoh kocek sebesar Rp. 23.000,-
Buat penggemar komik, tidak ada salahnya membaca buku ini. Hitung-hitung mendukung dunia per-komik-an Indonesia.
Menonton film ini mengingatkan saya akan dua film yang sudah pernah saya tonton, yaitu Enemy of the States dan War Games. Mengingatkan akan Enemy of the States karena di film ini ditunjukkan bagaimana privacy sudah tidak ada lagi, segala sesuatunya bisa dimonitoring (di US tentunya) menggunakan alat-alat yang canggih. Mengingatkan akan War Games karena di film ini, monitoring dilakukan oleh sebuah super komputer yang canggih, yang sangking supernya jadi lepas kontrol.
Tokoh antagonis pada film ini bukanlah manusia, melainkan si super komputer, yang berencana menghabisi presiden USA dan jajaran kabinetnya. Dan tokoh protagonis nya adalah saudara kembar dari orang yang awalnya mengurus si super komputer.
Sepanjang film penonton akan disuguhi dengan aksi-aksi yang melibatkan teknologi yang canggih, dimana si super komputer bisa dengan mudahnya mengendalikan lampu lalu lintas, pengungkit mobil, arah perjalanan Kereta Listrik, dll. Selain teknologi canggih, film ini juga mencoba menggugah emosi penonton karena salah satu tokoh dalam film ini adalah seorang Ibu yang terpaksa mengikuti perintah-perintah si super komputer agar anaknya bisa selamat.
Bagaimana akhir dari film ini? Apakah presiden dan jajaran kabinetnya jadi dihabisi? Apakah si super komputer berhasil dilumpuhkan? Apakah si Ibu berhasil menyelamatkan anaknya? Silahkan tonton film nya sendiri, hehehehe. Selamat menonton.
Kemaren, Rabu 17 Desember 2009, Dewa 19 mengadakan konser di kota Pematang Siantar, Sumatera Utara.
Saya tahu informasi mengenai konser ini beberapa hari sebelumnya melalui spanduk-spanduk yang dipasang di beberapa jalan di kota Balige. Pada spanduk tertulis bahwa konser akan dimulai pukul 17:00 di lapangan Brimob, kota Pematang Siantar.
Berhubung ini adalah kesempatan yang langka (konser terakhir yang saya tonton adalah konser group band Tipe-X di Porsea sekitar 1 tahun yang lalu), maka saya dengan semangat '45 bergerak menuju kota Pematang Siantar yang "berjarak" 2 jam dari tempat saya.
Sampai di lokasi konser, ternyata "tiketnya" ternyata cuman sebungkus rokok X-Mild (promotor konser) seharga Rp. 8.000,-. Pukul 19:00 dan konser belum dimulai. Penonton juga masih sedikit. "Sambel" pikir saya, "ngapain buru-buru kalo ternyata molor, I should've known that concert performance is usually delayed".
Setelah menunggu sekitar setengah jam, akhirnya konser dimulai. Tapi bukan Dewa 19 yang muncul, melainkan band pembuka, yang (sontoloyonya) ada empat band. Tapi lumayan menghibur karena lagu-lagu yang dibawakan lagu-lagu yang saya tau dan saya suka.
Sekitar pukul 21:00 akhirnya Dewa 19 muncul, akhirnya penantian itu berbuah manis. Konser Dewa 19 dibuka dengan suara instrumen yang aneh selama sekitar 5 menit *cape deh*. Baru kemudian Dewa 19 membawakan lagu-lagunya. Semua lagu yang dibawakan mampu membuat penonton berjingkrak-jingkrakan. Bahkan sampai dorong-dorongan (dan ada yang berantem, biasalah orang kampung ;p). Sesekali mobil pemadam kebakaran menyiramkan air supaya suasana tidak terlalu panas.
Secara keseluruhan penampilan Dewa 19 memang bagus, kecuali lagu terakhir yang dibawakan, yang merupakan single terbaru dari Dewa 19 (Perempuan Paling Cantik di Negeriku Indonesia) dimana Once salah masuk, keduluan padahal seharusnya masih intro :D. Tapi yang sangat saya sayangkan Dewa 19 seakan-akan tidak menyatu dengan penonton. Kadang-kadang Once menyapa penonton tapi kelihatannya seperti basa-basi saja. Tidak ada koneksi yang terbangun dengan penonton. Beda dengan konser Jikustik yang saya tonton beberapa tahun lalu di Balige, dimana Ponky berusaha mendekatkan diri dengan penonton dengan menggunakan kata-kata lokal seperti "horas", lalu mengajak salah satu penonton maju ke depan dan berinteraksi dengan penonton tersebut.
Tapi saya cukup puas karena bisa menonton konser Dewa 19, sekalian hiburan yang memang susah ditemui di sekitar Bonapasogit.
Holan Ho
Nang Pe Gaor Galumbangi
Nang Ro Haba Habai
Sai Hulugahon Do Solukki
Manjalahi Ho
(*)
Nang Gaor Hata Hatai
Ro Tusi Pareonki
Sai Hupasiding Sai Hupasiding
Humokkoppo
Reff
Ai Holan Ho Di Rohakki
Ai Holan Ho Di Nippiki
Dang Muba Dan Mose 2x
Sai Hot Do Ho Di Rohakki
Return to (*)
Return to Reff 2x
Dang Muba Dan Mose 2x
Sai Hot Do Ho Di Rohakki